Tulisan Terkini

Twitter

Al Kaafii Foundation

Awan Cumulonimbus, awan pembawa hujan atau badai disinggung dalam Al Qur'an An Nuur 43 kabarislamia.blogspo… pic.twitter.com/eEjp…

Syahadah Pintu Memasuki Islam

KH Dr Ali Sibromalisi

Ceramah KH Dr Ali Sibromalisi MA tanggal 1 September 2015 di Musholla Al ‘Ubudiyyah tentang keutamaan Syahadah. Disebutkan pentingnya Syahadah Asyhadu al Laa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rosulullah.

Dengan syahadah ini, Nabi memarahi sahabat Usamah bin Zaid yang membunuh seorang musuh di Medan Perang yang sudah mengucapkan kalimat Syahadah. Bayangkan. Di Medan perang setelah musuh tersebut nyaris dikalahkan, tiba-tiba dia mengucapkan 2 kalimat Syahadah.

Namun Usamah yang mengira orang tersebut berpura-pura, tetap menebas dengan pedangnya hingga mati. Saat ditanya Nabi kenapa membunuh orang yang sudah bersyahadah, Usamah berdalih bahwa orang tersebut mengucapkan kalimat syahadat hanya pura-pura.

Nabi marah dan mendekati Usamah sambil berkata: “Apakah kamu sudah membuka dadanya dan melihat hatinya?  Apakah kamu sudah membuka dadanya dan melihat hatinya?  Apakah kamu sudah membuka dadanya dan melihat hatinya?  ” Nabi mengucapkan itu 3 kali sehingga Usamah menyesal.

Video Ceramah:

Itulah keutamaan Syahadah. Orang yang sudah mengucapkan Syahadah, tidak boleh dibunuh. Di medan perang saja tidak boleh, apalagi pada keadaan normal. Tak boleh kita bilang mereka cuma pura-pura bersyahadah. Pura2 Islam. Kita tidak boleh berburuk sangka (su’u zhon).

Orang yang sudah bersyahadah, saat meninggal berhak untuk disholati. Itulah makna “Min sholati ‘alaihi”. Ustad Ali menjelaskan perbedaan kalimat “Ud’u lana” yang artinya “Doakan kami” dengan “Ud’u ‘alaina” yang artinya “Sumpahi kami”. Ini adalah masalah Nahu yang belum tentu orang awam paham.

Syahadah bisa diucapkan, bisa juga tidak. Itulah sebabnya guru Ustad Ali menjelaskan bahwa Abu Thalib, paman Nabi itu wafat dalam keadaan Muslim. Ini karena syahadahnya itu dalam hati. Ada beberapa bukti.

Ini adalah hadits dari Shahih Muslim yang dipakai banyak orang untuk menuduh Abu Thalib wafat sebagai orang kafir:

Hadis riwayat Musayyab bin Hazn ra., ia berkata:
Ketika Abu Thalib menjelang kematian, Rasulullah saw. datang menemuinya. Ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai pamanku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, ucapan yang dapat kujadikan saksi terhadapmu di sisi Allah. Tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib? Rasulullah saw. terus-menerus menawarkan kalimat tersebut dan mengulang-ulang ucapan itu kepada Abu Thalib, sampai ia mengatakan ucapan terakhir kepada mereka, bahwa ia tetap pada agama Abdul Muthalib dan tidak mau mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, demi Allah, aku pasti akan memintakan ampunan buatmu, selama aku tidak dilarang melakukan hal itu untukmu. Kemudian Allah Taala menurunkan firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim. Dan mengenai Abu Thalib, Allah Taala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Shahih Muslim No.35)

Di situ dijelaskan bahwa wafatnya Abu Thalib sebagai sebab turunnya Surat At Taubah ayat 113:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” [At Taubah 113]

Padahal jika kita teliti, Surat At Taubah itu adalah Surat Madaniyah yang turun di kota Madinah tahun 9 Hijriyah. Sementara paman Nabi, Abu Thalib wafat saat Nabi di Mekkah tahun 1 sebelum Hijriyah atau 10 tahun sebelum turunnya surat At Taubah. Jadi jauh sekali jika wafatnya Abu Thalib dinisbatkan sebagai Asbabun Nuzul Surat Attaubah ayat 113 karena terpaut 10 tahun.

Kemudian sejak bertemu pendeta Buhaira yang melihat tanda kenabian pada Muhammad memberitahu bahwa Muhammad akan jadi Nabi dan kaumnya akan membunuhnya. Oleh sebab itu Abu Thalib benar-benar menjaga Nabi sehingga Nabi benar-benar aman.

Saat Abu Thalib meninggal, Nabi seperti tak punya pelindung lagi di Mekkah sehingga diperintahkan untuk hijrah. Lihat cerita berikut:

Suatu hari ketika Abu Thalib hendak melakukan ekspedisi dagang ke Syam bersama kafilah Quraisy, Muhammad yang ketika itu masih berumur 12 tahun berkata, “Pamanku, kepada siapa engkau akan menitipkanku? Mengapa tidak kau ajak aku? Sementara aku tidak memiliki pelindung selain mu.”

Perkataan Muhammad itu menjadikan Abu Thalib terharu. Maka diangkatnya tubuh Muhammad dan didudukkannya si atas hewan yang ditungganginya. Keduanya pun bersama-sama menempuh perjalanan ke negeri Syam.

Pertemuan dengan Buhaira[sunting | sunting sumber]
Setelah melakukan perjalanan yang teramat jauh, suatu hari mereka sampai di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz. Disana mereka bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira. Ketika melihat Muhammad kecil selalu dipayungi oleh awan, Buhaira segera memperhatikan dengan seksama dan menghampirinya, lalu diperiksa sekujur tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci terdahulu. Ia menemukan tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu ia mencium tanda itu.

Pesan Buhaira terhadap Abu Thalib[sunting | sunting sumber]
Buhaira juga berpesan kepada Abu Thalib agar ia berhati-hati terhadap rencana jahat orang Yahudi. Allah telah mentakdirkan nabi terakhir berasal dari bangsa Arab dan nabi itu adalah Muhammad. Sementara orang-orang Yahudi menginginkan agar status kenabian itu selamanya milik bani Israel. Itulah sebabnya mereka akan selalu berusaha untuk membunuh Muhammad jika mereka mendapat kesempatan.

Ramalan Buhaira itu kemudian terbukti benar, Muhammad memperoleh wahyu pada usia empat puluh tahun. Malaikat Jibril mendatangi dan memberitahunya bahwa Allah mengutusnya sebagai nabi yang menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada umat manusia. Muhammad kemudian menyeru manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa.

https://id.wikipedia.org/wiki/Buhaira

Sekali lagi, adakah mungkin Abu Thalib membela Nabi mati-matian jika beliau tidak percaya jika Muhammad itu adalah Nabi? Sementara paman Nabi yang lain, Abu Lahab justru berusaha menyakiti Nabi?

Nabi juga berkata:

Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)

Apakah Abu Thalib yang mengasuh Nabi dari umur 8 tahun yang mengutamakan Nabi di atas anak-anaknya sendiri bukan pengasuh anak yatim yang pantas mendapat surga sebagaimana hadits di atas?

Bagaimana perasaan Nabi jika tahu kita mengkafirkan Abu Thalib? Apakah anda mengira bisa mendapatkan syafa’at Nabi di hari kiamat jika anda menyakiti hati Nabi dengan mengkafirkan paman beliau Abu Thalib?

Untuk Abu Lahab, jelas disebut di Al Qur’an. Ada pun hadits, meski secara sanad sahih, isinya tidak dijamin kebenarannya sebagaimana Al Qur’an. Mengikuti Jumhur Ulama jauh lebih baik.

Jangan sampai dalam membaca Al Qur’an dan Hadits seperti ini:

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat ulama berbeda pendapat apakah paman Nabi, Abu Thalib, itu kafir atau Muslim, lebih aman kita husnu zhon dengan menganggapnya Muslim. Sebab jika kita menganggapnya kafir dan salah, kitalah yang kafir:

“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Kontak Kami Download Lokasi Yayasan Al Kaafii Indonesia

Jl. Pedati raya Rt.0013/10 no. 109 Bidaracina Jatinegara

Jakarta Timur 13330.

Telp. 021-85902607 - Fax, 021- 29821968.

Email. BMTBKB@ymail.com / kaafii@kaafii-indonesia.or.id

Proposal Pemberdayaan Fakir Miskin

Proposal Pemberdayaan Fakir Miskin Al Kaafii Foundation

Program Pemberdayaan fakir miskin melalui Pembiayaan Kebajikan dan Pengembangan SDM Anak Yatim melalui Pendidikan Gratis sampai Perguruan Tinggi Selengkapnya…

Copyright © 2017 Yayasan Al Kaafii Foundation Indonesia - All Rights Reserved
Powered by WordPress & Atahualpa